Bandung – BN, untuk mewujudkan ramah lingkungan, RSUD Cicalengka
Kabupaten Bandung telah meluncurkan sebuah inovasi dalam pengelolaan sisa sampah di rumah sakit.
Seiring dengan waktu, jumlah pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit ini terus meningkat.
Namun, dengan kenaikan jumlah pasien juga berarti adanya peningkatan dalam jumlah sampah yang dihasilkan.
Salah satu sumber sampah yang cukup signifikan Sampah organik, berupa sisa-sisa bahan makanan, selama ini belum mendapat pengelolaan yang optimal. Hal ini mengakibatkan sampah organik tersebut langsung dibuang di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Domestik.

Untuk mengatasi permasalahan ini, RSUD Cicalengka memulai inisiatif dengan program Sistem Kelola Sampah Organik Dengan Larva Maggot(berupa ulat) dari jenis lalat black soldier fly yang biasa disebut BSF larva ini merupakan fase kedua dari proses metamorphosis atau proses perkembangan dari telur menjadi lalat dewasa . Lalat BSF termasuk jenis lalat besar ,berwarna hitam dan kaki kakinya berwarna putih.Maggot dapat menjadi pakan ternak yang bergizi tinggi,karena mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh pertumbuhan dan perkembangan ternak ,terutama ternak unggas . Zat gizi dan nutrisi yang terkandung dalam maggot meliputi protein ,lemak,asam amino esensial dan mineral. Program ini merupakan langkah strategis dalam mengelola sampah organik dengan memanfaatkan larva maggot BSF (Black Soldier Fly).

“Kami berkomitmen untuk mengurangi dampak lingkungan dari sampah organik yang dihasilkan oleh RSUD Cicalengka,” ungkap dr. Mulya Munajat Direktur utama RSUD Cicalengka.
“RSUD Cicalengka merupakan langkah progresif dalam pengelolaan sampah yang kami terapkan di rumah sakit ini.”
Setiap hari, sampah organik yang dihasilkan dari dimanfaatkan sebagai pakan untuk larva maggot. Dengan program ini, sampah organik berhasil tereduksi hingga sekitar 75%. Bahkan, larva maggot dewasa dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk ikan lele di kolam RSUD Cicalengka .
Proses selanjutnya, larva maggot yang telah berkembang akan dipindahkan ke kandang khusus untuk dikembang biakkan hingga menjadi lalat BSF. Daur hidup BSF kemudian akan kembali menghasilkan telur yang menetas menjadi baby larva, yang kemudian menjadi pengurai sampah organik.
“Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi dampak lingkungan dari sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk sampingan yang berguna bagi rumah sakit,” tambah dr. Mulya Munajat.
RSUD Cicalengka tidak hanya mengurangi timbunan sampah organik, tetapi juga mampu meminimalkan biaya pengelolaan sampah organik. Inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana rumah sakit dapat berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.(Gun)







